1976: et ce rayon cest le bonheur
Hanya satu kebahagiaan
dalam hidup yaitu ketika kita dapat mencintai dan dicintai. Tak melulu
bagaimana kita mencintai seseorang, ada kalanya seorang anak laki-laki bahkan
tak sebagian kecil juga anak perempuan juga mencintai hal yang lain, yaitu
sepakbola. Olahraga yang memainkan si kulit bundar di tengah lapang. Hal yang
menurut orang lain biasa aja, tapi bagi saya tidak. Ya, PS Sleman lah yang
membuat saya jatuh cinta. Sebuah klub sepakbola asal kabupaten Sleman. Klub
yang didirikan pada tahun 1976. Bagaimana tidak, klub ini menghadirkan riuh yang
sangat saya rindukan saat ini. Menghadirkan tangis, tawa atau bahkan perasaan lain
yang ada di hati para pencintanya. Ketika akan bertemu dengannya hati rasanya
berdebar-debar, ada asa dan cinta yang ingin diungkapkan. Ketika bertemu hanya
luapan emosi yang bisa kami berikan, entah itu menyanjungmu atau bahkan
mengolok-olok dirimu. Pun ketika pertemuan ini usai, ada kalanya kami menangis Bahagia
karena kamu mampu menakhlukkan musuhmu atau bahkan menangis sedih melihatmu
diterka oleh musuhmu.
Ya mencintai
memang begini adanya, tak lurus seperti penggaris. Kadang ada manis juga ada
pahit. Tapi yang saya percaya atau bahkan kami semua yang mencintainya ada
sebuah kebahagiaan di dalam diri klub kebanggaan kami, PS Sleman.
Ya kami rindu,
ya kami ingin merayakan lagi pertemuan yang lama sudah dinanti. Tapi sementara
semesta tidak mendukung untuk hal itu. Yang ada hanyalah meminta Tuhan untuk
membuat ini semua menjadi sedia kala.
Ya PS Sleman,
saya atau bahkan kami rindu melihat kamu berada di tengah lapang menerka semua
musuh-musuhmu.
Dan ada sedikit
kata untukmu wahai yang saya atau bahkan kami cintai. Cinta itu membuat kita berfikir, hidup dan
tumbuh. Dia (cinta) menghangatkan hati. Sebuah sinar yang melebihi sebuah
kejayaan. Dan sinar itu adalah kebahagiaan
Je T’aime PS Sleman
Komentar
Posting Komentar